Linux Inspirations

Mencari Rezeki di Ladang TI .. Menjanjikan Loh

Posted on: 9 April, 2007

Peluang kerja di bidang perkomputeran masih sangat lebar, namun kuantitas dan kualitas SDM-nya memang perlu di-upgrade.Yakinlah, Sipenmaru, UMPTN atau istilah sekarang SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) bukanlah segalanya. Maka kalau putra-putri, keponakan atau kerabat jauh Anda gagal menembusnya, besarkan hatinya dan katakan, “masih banyak jalan menuju Roma”.

Apalagi kalau jurusan yang mereka minati adalah jurusan teknologi informasi (TI) atau bidang perkomputeran, sebenarnya kesempatannya tetap terbuka lebar. Berbagai universitas kini menawarkan jenjang pendidikan komputer dan siap mengantar mereka ke jenjang profesinya.

Taufik Rahman, contohnya. Kepala Bagian TI di sebuah perusahaan kargo di Jakarta ini dulunya juga termasuk yang gagal lolos ke universitas negeri impiannya.

“Waktu itu saya pikir jadi lulusan akuntansi dari kampus negeri dan beken pasti peluang kerjanya gampang,” tandasnya. Tadinya ia pun tetap ingin memilih akuntansi sebagai jalur pendidikannya, meski di universitas swasta.

Namun, seorang teman kemudian membelokkan perhatiannya pada komputer. “Kebetulan saya juga hobi, maka saya pun memilih jurusan komputer,” tuturnya lagi.

Walau berawal sebagai technical support, namun lapangan kerja TI saat ia lulus memang mulai terbuka lebar. Ia pun merintis karirnya hingga menjadi kepala bagian TI saat ini. Omong-omong soal gaji bagaimana? “Ya, lumayanlah buat saya yang masih muda begini. Demi sesuap nasi dan sebongkah berlian,” guraunya.

Kurang 320.000 Tenaga
Kini, pasar tenaga kerja TI malah terus melebar. Budi Rahardjo, pakar TI yang sekaligus dosen di ITB, memprediksikan kebutuhan tenaga TI masih akan cukup besar.
Teorinya, target ekspor dari dunia TI Indonesia di tahun 2010 adalah US$ 8 miliar. Jika produktivitas seorang pekerja TI dalam satu tahun mencapai rata-rata US$ 25.000. Maka kira-kira tenaga TI yang dibutuhkan tahun 2010 adalah 8 milyar dibagi 25.000, yaitu 320.000 orang.

Sekarang lihat output yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan training center TI dalam setahunnya. “ITB saja mungkin hanya menghasilkan maksimal 300 pekerja TI per tahunnya. Jadinya dibutuhkan 100 ITB untuk memenuhi target tadi,” papar Budi. Bayangkan!

Ya, itu teorinya. Namun sederhananya, coba Anda perhatikan iklan lowongan kerja yang muncul di surat kabar tiap minggu. Selalu saja ada yang menawarkan posisi untuk bagian TI. Artinya, peluangnya masih lebar tuh.

Apalagi peluang dari luar negeri pun terbuka. “Tidak sedikit tenaga TI Indonesia di perusahaan di luar negeri,” ungkap Budi.

Budi tidak salah, karena hal seperti itulah maka perusahaan seperti Work IT Out lahir. Perusahaan ini cukup aktif untuk menyalurkan TKI bidang TI bekerja ke luar negeri.

Bukan hanya untuk individu, peluang pun terbuka dalam bentuk order outsourcing. Sigma Cipta Caraka, adalah salah satu software house di Bali yang getol meraih order dari perusahaan software besar di luar negeri.

Lebarnya peluang pun tercermin dengan lalu lintas tenaga kerja TI yang terbilang cepat. Seorang rekan yang kini berkarir di sebuah perusahaan di Kalimantan sejak kelulusannya dari sebuah universitas swasta bidang komputer sekitar tahun 1997 lalu, malah hampir tiap tahun berganti kartu nama.

“Cari yang lebih baik. Wajar toh,” tandasnya di suatu kesempatan. Ya, bukan rahasia lagi, kalau banyak perusahaan berani membayar mahal tenaga kerja TI profesional.

Umum Dicari: Technical Support!
Dari pengamatan redaksi, setidaknya ada beberapa bidang posisi TI yang relatif banyak dibutuhkan saat ini. Bidang system, network, desain grafis, dan web desain adalah beberapa di antaranya.

“Yang umum diminta dan selalu diperlukan adalah tenaga Technical Support,” ujar Edi S. Tjahya, managing director JobsDB.com.

“SDM TI yang banyak dibutuhkan sekarang adalah yang bisa belajar dengan cepat, karena perubahan teknologi yang cepat. Selain itu, SDM TI yang menguasai business computing seperti SAP dan Oracle, juga banyak diminta,” tambah Budi.

Untuk bidang komputer grafis pun peluang masih banyak. “Hampir setiap minggu kami selalu mendapat kiriman lowongan dari berbagai perusahaan. Jika industrinya sendiri maju secara pesat, tentu kebutuhan SDM di bidang computer graphic ini sangat luas,” ujar Andi S. Boediman, pemilik dan pengelola Digital Studio, pusat pelatihan web desain dan komputer grafis.

Ijazah, Sertifikasi plus Pengalaman
Itu baru bicara peluang. Masalahnya bagaimana menyiasati peluang tersebut agar menjadi kenyataan. Tak lain jawabnya tentu soal kualitas dari SDM TI itu sendiri.

“Mencari tenaga kerja yang handal dan berpengalaman memang jadi masalah utama,” ujar Budi.

“SDM TI Indonesia juga sulit bersaing karena kemampuannya,” timpal Edi Tjahya.

Buntutnya memang mengarah ke soal lembaga pendidikan. Meski banyak tenaga TI berijazah perguruan tinggi, ternyata banyak perusahaan pun menuntut sertifikasi profesional pada pelamar.

Frans Budiarto, IT manager di PT KIA Indonesia, di Jakarta, berpendapat sertifikasi vendor seperti Cisco, Unix, Linux, atau Microsoft memperbesar peluang mendapatkan pekerjaan.

“Idealnya, seseorang memiliki keduanya, ijazah dan sertifikasi,” ujar Bambang Wahyudi, Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Gunadarma, di Jakarta, menguatkan.

Lantas yang jadi pertanyaan, apa lulusan perguruan tinggi TI di Indonesia kurang diterima industri? Sebentar, jangan buru-buru sangsi.

Untuk menyiasati hal itu, Universitas Bina Nusantara, di Jakarta, misalnya, berinisiatif menyediakan program sertifikasi internasional bekerja sama dengan Microsoft, Lotus, Cisco, dan sebagainya. Sementara Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Gunadarma, masih puas dengan sertifikasi lokal.

“Tiap mahasiswa diwajibkan mengikuti satu kursus dan satu workshop dengan materi yang sesuai perkembangan IT,” ungkap Asep Juarna, Pembantu Dekan III, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Gunadarma. Kabarnya Gunadarma pun tengah menjajaki peluang untuk sertifikasi internasional.

Namun, ada saja yang merasa kurang. Juliana, mahasiswi Sistem Informasi di salah satu perguruan tinggi itu menyayangkan kurikulum sekolahnya yang lebih mengutamakan teori.

“Pengajarannya tidak spesifik. Pendidikannya seakan hanya untuk dapat gelar saja. Kita hanya tahu teori,” kata mahasiswi semester empat ini. Pihak kampus mestinya sering-sering mengevaluasi diri dari masukan seperti ini.

Yang jelas, berbekal ijazah dan sertifikasi saja tidak cukup. Pengalaman kerja pun jadi modal yang tak kalah utamanya.

“Sangat kurang mahasiswa yang berkesempatan terjun ke ‘lapangan’ yang sebenarnya. Jadinya kebanyakan hanya memiliki knowledge IT, namun pengalaman kosong,” tandas Rama Yurindra, pendiri Rynetdesign.com – sebuah konsultan untuk desain web.

Pendidikan memang soal pelik dan titik idealnya selalu jadi topik yang “relatif”. “Jangan mengambing-hitamkan tempat kuliah, jika pas kita kerja nanti kita kurang siap pakai.

ihat ke diri kita sendiri saja. Saran saya buat para mahasiswa, waktu liburan kosong tuh sebaiknya dimanfaatkan untuk kursus atau training tambahan,” tandas Rama yang ternyata masih mahasiswa itu.

Ya, kuncinya memang pada diri sendiri. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. FENNY, YUL | PRAM

PERLUKAH SEKOLAH TI?

Tanpa sekolah pun bisa! Ya, bertebarannya buku-buku pengetahuan TI membuka kesempatan para otodidak bidang komputer.

Banyak contoh sukses sebagai tempat bercermin. “Semuanya tergantung hobi,” kata Steven Haryanto, lulusan Teknik Kimia ITB yang sempat menjadi web developer satunet.com, dan kini adalah kepala editor majalah MWMag.

Steven sendiri sebenarnya memang berminat pada Teknik Informatika, tapi karena sistem penjatahan dari ITB, ia lalu memilih Teknik Kimia. Namanya juga minat, lulus kuliah ia kembali lagi menekuni bidang TI.

Hobi pulalah yang mendorong Benyamin Maengkom, system analyst Gramedia Majalah Online, untuk terjun ke dunia TI. Lulusan Teknik Kimia UI ini telanjur jatuh cinta pada bahasa pemograman Pascal.

“Saya memperlajari Pascal sampai nglotok,” aku pria penggila game yang juga sempat membuat beberapa program game ini.

Yang tidak kalah melenceng adalah kisah karir Wahyudi Guntur, Team Developer (MIS), PT Alfa Retailindo, di Jakarta. Lulus dari jurusan Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Wahyudi kini mengembangkan database berbasis Oracle.

Ia mulai kenal Oracle saat mengikuti training Application Developer Lotus Notes. Wahyu berkomentar, “Kalau suruh ngitung beton pasti sama rumus dan langkahnya, tapi coba kalau develop suatu web, pasti berlainan. Hal itu yang menantang”.

Para tenaga TI itu memang beberapa kasus saja. Kalau Anda sekarang ingin serius berkarir di bidang ini, pendidikan formal tentu tetap penting.

Sumber : Komputer Aktif

 Entri ini dibuat oleh kang deden dan ditulis pada 27 Maret, 2007 pada 4:36 pm dan diberkaskan di dalam Teknologi Informasi. Buat Penanda Halaman Tautan Permanen. Ikuti komentar apa pun di sini dengan Pengumpan RSS untuk tulisan ini. Tulis komen atau tinggalkan trackback: URL Trackback.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ABout Me!


WordPress ini sengaja saya buat untuk menulis apa yang telah saya lakukan agar saya selalu ingat, tulisan yang saya buat kebanyakan dalam bentuk tutorials configurasi linux dari hasil uji coba saya dan sebahagian di kutip dari beberapa website lain yang saya anggap perlu untuk saya tulis disini. Mudah-mudahan tutorial yang saya buat ini berguna buat pencinta linux yang lain. Salam Sejahtera.

Blog Stats

  • 120,467 hits

Linux Inspiration

%d blogger menyukai ini: